Archive for the ‘Uncategorized’ Category

  1. Pendekatan dan Rancangan Penelitian

Penelitian ini menjelaskan tentang “kesesuaian upah pekerja bangunan ditinjau dari akad ujrah di Desa Kampung Hilir Kecamatan Serasan” untuk itu penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif. adalah sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata –kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan prilaku yang dapat diamati.[1]

Sedangkan jenis penelitian yang digunakan penelitian deskriptif. Penelitian ini termasuk  menggunakan penelitian populasi, yakni penelitian yang memakai objeknya dengan mengambil sampel dari populasi yang ada pada pekerjaan bangunan. Sampel adalah sebagian dari populasi sebagai contoh (master) yang diambil dengan menggunakan cara- cara tertentu.

Dalam penelitian ini yang menjadi populasi adalah seluruh majikan dan pekerja bangunan di Desa Kampung Hilir Kecamatan Serasan yang berjumlah 16 orang. Sedangkan sampel dalam penelitian ini penulis menggunakan sampel yang sama dengan populasi yaitu 16 orang.

Subyek dan Obyek dalam penelitian ini.  Subyek adalah orang yang dijadikan sumber untuk mendapatkan data dan informasi. Subyek dalam penelitian ini adalah ajir (pekerja) dan mustajjir (majikan).  Kemudian Obyek adalah sesuatu yang dijadikan maksud dan tujuan yang ingin di capai. Obyek dalam penelitian ini adalah Kesesuaian Upah Pekerja Bangunan Ditinjau dari Akad Ujrah.

Jadi alasan peneliti menggunakan pedekatan dan jenis penelitian kualitatif deskriptif karena untuk mencari data-data yang dihasilkan berupa kata-kata. Disamping itu penelitian kualitatif berguna untuk mendeskripsikan, memberikan gambarkan secara utuh tentang kesesuaian upah pekerja bangunan.

 

  1. Lokasi Penelitian

Adapun lokasi penelitian ini yaitu berlokasi di Desa Kampung Hilir Kecamatan Serasan.

 

  1. Kehadiran Penelitian

Ada beberapa kegiatan yang harus dilakukan dalam melakukan penelitian yaitu usaha mengenali tahap-tahap penelitian. Tahap-tahap penelitian tersebut nantinya akan memberikan gambaran tentang keseluruhan, pelaksanaan dan pengumpulan data, analisa data sampai pada penulisan skripsi. Tahap-tahap penelitian terdiri dari :

  1. Tahap pra lapangan

Yaitu tahap yang dilakukan peneliti sebelum melakukan penelitian. Pada tahap ini yang dapat diuraikan sebagai berikut :

  1. Menyususun rancangan penelitian

Tahap pra-lapangan yang dilakukan pertama kali adalah menyusun rancangan penelitian. Rancangan penelitian yang dimaksud adalah penyusunan proposal penelitian yang terdiri dari judul penelitian, rumusan masalah penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian, definisi konsep, kerangka teori, metode penelitian, dan sistematika pembahasan.

  1. Memilih lapangan penelitian

Dalam konteks penelitian yang dilakukan peneliti sebelum membuat usulan pengajuan judul. Peneliti terlebih dahulu mencari data atau informasi tentang obyek yang akan diteliti melalui beberapa cara, yang kemudian tertarik untuk dijadikan obyek penelitian yang sesuai dengan jurusan. Dalam hal tersebut peneliti menetapkan Desa Kampung Hilir Kecamatan Serasan yang melakukan pekerjaan bangunan.

  1. Mengurus perizinan

Setelah membuat usulan penelitian dalam bentuk proposal,penelitian mengurus perizinan melakukan penelitian di obyek yang akan diteliti dengan cara meminta surat pengantar dari Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Natuna.Yang diperutukkan untuk penelitian di Desa Kampung Hilir Kecamatan Serasan.

  1. Menjajaki dan menilai keadaan lapangan

Tahap ini belum sampai pada titik yang menyingkapi bagaimana peneliti masuk kelapangan dalam arti mulai mengumpulkan data yang sebenarnya. Tahap ini barulah merupakan orientasi lapangan, namun dalam hal-hal tertentu peneliti telah menilai keadaan lapangan. Pada tahap ini, peneliti menjajaki dan menilai lapangan dengan pekerja bangunan beberapa hari untuk melihat kesesuaian upah.

  1. Memilih dan memanfaatkan informan

Informan adalah orang yang dimanfaatkan untuk memberikan informasi tentang situasi dan kondisi latar penelitian. Orang yang akan dipilih untuk dijadikan informan pada penelitian ini adalah Majikan dan Pekerja Bangunan di Desa Kampung Hilir.

  1. Tahap pekerjaan lapangan

Uraian tentang pekerjaan lapangan dibagi atas tiga bagian. Namun dalam penelitian ini, peneliti hanya menggunakan dua bagian dalam tahap pekerjaan lapangan, yaitu :

  1. Memahami latar penelitian dan persiapan diri, dan
  2. Memasuki lapangan.

Dalam tahap ini, sebelum merumuskan pembahasan penelitian, peneliti terlebih dahulu telah memahami tentang latar penelitian, kemudian peneliti mempersiapkan diri secara matang dan serius untuk membahas penelitian ini. Baru kemudian peneliti terjun ke lapangan untuk mencari data atau informasi yang berkaitan dengan masalah yang dijadikan fokus penelitian.

 

  1. Data dan Sumber Data

 

  1. Jenis Data

Berdasarkan sumbernya jenis data dibagi menjadi dua yaitu data primer dan data sekunder.

  1. Data primer

Data primer adalah data yang diperoleh secara langsung diambil dari lokasi atau lapangan atau lapangan (dari sumbernya) dan masih memerlukan analisa lebih lanjut. Dalam penelitian data yang dihimpun adalah data tentang kesesuaian upah pekerja bangunan, bagaimana perjanjian awal, penetapan upah, bagaimana jalannya kegiatan tersebut, dan seperti apa sistem pengupahan di Desa kampung Hilir tersebut data ini yang diperoleh dari dokumentasi organisasi yang berhubungan dengan data tersebut dan data-data yang lain yang ada kaitannya dengan penelitian.

  1. Data sekunder

Data sekunder adalah data yang dapat diperoleh dari atau berasal dari bahan perpustakan, misalnya buku-buku literature. Dalam hal ini peneliti mencari reference atau literature buku-buku yang berhubungan dengan teori-teori serta juga yang berhubungan dengan fokus penelitian.

 

  1. Sumber data

Yang dimaksud sumber data dalam penelitian adalah subyek dari mana data -data dapat diperoleh. Adapun data yang dipakai oleh peneliti untuk melengkapi data tersebut adalah :

  1. Informan, yaitu orang-orang yang memberikan informasi tentang segala sesuatu yang terkait dengan penelitian. Sebagai sumber Informan utama dalam penelitian ini adalah Bapak Chalil Rahman, Bapak Sadri, Bapak Asmaryadi, Bapak Mulyadi, Bapak Iswandi, Bapak Khairuddin, Bapak Ferli Zulfikar dan pekerja lainnya.
  2. Dokumentasi, yaitu berupa tulisan atau catatan yang ada hubungannya dengan masalah diatas dalam penelitian. Yang dimaksudkan untuk mengetahui data tentang bagaimana kegiatan pekerja bangunan, pengambilan upah, penentapan upah dan lainnya.

 

  1. Teknik Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data yang digunakan penulis adalah sebagai berikut:

  1. Observasi yaitu usaha yang dilakukan guna mengumpulkan data dengan cara pengamatan dan pencatatan secara sistematis terhadap fenomena-fenomena yang berkaitan dengan Kesesuaian upah pekerja bangunan ditinjau dari akad Ujrah di Desa Kampung Hilir Kecamatan Serasan.
  2. Wawancara yaitu mengumpulkan data dengan cara tanya jawab sepihak yang dikerjakan dengan sistematik dan berlandaskan tujuan penyelidikan. Metode ini digunakan untuk memperoleh data tentang Kesesuaian Upah Pekerja Bangunan Di Tinjau Dari Akad Ujrah di Desa Kampung Hilir Kecamatan Serasan.
  3. Dokumentasi yaitu melihat dokumen dan data yang sudah ada dalam bentuk tulisan.

 

  1. Analisis Data

Analisis dalam penelitian merupakan bagian yang sangat penting, karena dengan analisis inilah data yang ada akan nampak manfaatnya dalam memecahkan masalah penelitian dan mencapai tujuan akhir penelitian. Data yang diperoleh sejak awal penelitian peneliti analisis, diberi penjelasan secara sintesis yang selanjutnya disimpulkan sebagai pedoman penelitian. Secara terperinci, proses analisis data dilakukan peneliti adalah melalui tahap-tahap-tahap sebagai berikut :

  1. Reduksi data, diartikan sebagai proses, pemusatan perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan dan transformasi data yang muncul dari catatan tertulis dilapangan.
  2. Penyajian data, alur penting yang kedua dalam analisis data adalah penyajian data. Dengan melihat penyajian data peneliti dapat memahami apa yang sedang terjadi dan apa yang harus dilakukan untuk menganalisis data yang diperoleh. Penyajian yang paling sering digunakan pada data kualitatif adalah bentuk teks naratif. Yaitu, menyajikan data dengan menceritakan kembali tentang Kesesuaian Upah Pekerja Bangunan di Desa Kampung Hilir Kecamatan Serasan. Menarik kesimpulan/ verifikasi yaitu meninjau ulang catatan lapangan dengan seksama melalui pemeriksaaan keabsahan data untuk menguji kebenarannya dan kecocokannya yang merupakan [2]

 

  1. Pengecekan Keabsahan Sumber Data

Pengecekan keabsahan data merupakan dasar obyektifitas hasil yang dicapai dalam penelitian untuk memeriksa data yang dikumpulkan. Dalam penelitian tersebut, tidak menutup kemungkinan terjadi kesalahan dan untuk menghindari kesalahan data yang peneliti simpulkan, maka peneliti memeriksa kembali terhadap data yang telah dikumpulkan. Hal ini peneliti lakukan untuk menghindari dari kesalahan dan ketidakbenaran data.

Adapun teknik yang peneliti gunakan dalam pemeriksaan data

dalam penelitian ini adalah :

  1. Perpanjangan Keikutsertaan

Perpanjangan keikutsertaan berarti peneliti tinggal di lapangan penelitian sampai kejenuhan pengumpulan data tercapai. Perpanjangan keikutsertaan akan meningkatkan derajat kepercayaan data yang dikumpulkan oleh peneliti. Peneliti dapat mempelajari kebudayaan, dapat menguji ketidak benaran baik dari diri sendiri maupun dari responden, dan membangun kepercayaan subyek.

  1. Ketekunan Pengamatan

Ketekunan pengamatan dilakukan dengan maksud menemukan ciri-ciri dan unsur-unsur dalam situasi yang sangat relevan dengan persoalan atau isi yang sedang dicari dan kemudian memusatkan diri pada hal-hal tersebut secara rinci. Dengan kata lain, jika perpanjangan keikutan sertaan menyediakan lingkup, maka ketekunan pengamatan menyediakan kedalaman. Dalam hal ini peneliti hendaknya mengadakan pengamatan dengan teliti dan rinci secara berkesinambungan terhadap faktor –faktor yang menonjol, kemudian di telaah untuk keperluan itu teknik ini menuntut agar peneliti mampu menguraikan secara rinci bagaimana proses penemuan secara relatif dan penelaahan secara rinci tersebut dapat dilakukan.

 

  1. Triangulasi

Dari tahap ketekunan diatas, peneliti juga menggunakan model triangulasi. Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatau diluar data untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data. Dalam penelitian ini melakukan triangulasi dengan perbandingan teori triangulasi dengan sumber berarti peneliti membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi. Pada metode ini, triangulasi dapat diperoleh dengan berbagai cara:

  1. Membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara.
  2. Membandingkan apa yang dikatakan orang didepan umum dengan apa yang dikatakan secara pribadi.
  3. Membandingkan apa dikatakan orang terhadap situasi penelitian dengan apa yang dikatakan sepanjang waktu.
  4. Membandingkan keadaan dan perspektif seseorang dengan berbagai pendapat pandangan orang seperti rakyat (awam),orang yang berpendidikan menengah atau tinggi,orang yang berada dan orang pemerintah

 

REFERENSI

[1] Lexi J.Moleong, Metodologi Penelitian Kualitaif (Bandung : PT Remaja Rosda Karya,

2002),hal.3

[2] Miles, Matthew B. Dan Michel Huberman. Analisis Data Kualitatif. Terjemahan : Tjejep RR ( Jakarta : UI Press, 1992), hal. 16.

                                                                 BAB I

                                                      PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Manusia sebagai makhluk sosial  perlu memenuhi kebutuhan hidup demi kelangsungan hidupnya  di dunia. Untuk itu manusia harus bekerja, sebab dengan bekerja manusia akan bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari. Salah satu bentuk muamalah yang terjadi adalah kerjasama antara manusia, yaitu satu pihak sebagai penyedia jasa / tenaga yang disebut buruh dalam hal ini pekerja bangunan, dengan pihak lain yang menyediakan pekerjaan disebut majikan, untuk melaksanakan suatu pekerjaan dengan ketentuan pihak pekerja akan mendapatkan kompensasi berupa balasan atau upah. Dalam Islam pemberian upah pekerja disebut dengan Ujrah.

Al Qur’an memberi penekanan utama pada pekerjaan dan menerangkan dengan jelas bahwa manusia diciptakan di bumi ini untuk bekerja keras untuk  mencari penghidupan masing-masing. Hal ini ditunjukkan dalam surah Al-Insan sebagai berikut[1]:

 

 

Al-Qur’an Surah Al-Insan : 28

ß`øtªU öNßg»oYø)n=s{ !$tR÷Šy‰x©ur öNèdtó™r& ( #sŒÎ)ur $uZø¤Ï© !$uZø9£‰t/ öNßgn=»sWøBr& ¸xƒÏ‰ö7s? ÇËÑÈ

Artinya : Kami telah menciptakan mereka dan menguatkan persendian mereka, apabila kami menghendaki, kami sungguh- sungguh menganti (mereka) dengan orang-orang yang serupa dengan mereka.[2]

Dalam Islam istilah buruh/ pekerja bangunan dengan majikan tidak ada perbedaan kelas diantaranya, karena pekerja dan majikan sama-sama mempunyai hak dan kewajiban yang harus mereka terima dan dipenuhi. Seperti contoh untuk membangun sebuah bangunan (rumah) dibutuhkan pekerja, untuk membangun bangunan tersebut para pekerja tersebut bekerja dengan upah harian dan ada juga dengan upah borongan, (dalam penelitian ini penulis mengambil pekerja harian) tergantung dari orang yang memperkerjakan mereka. Hak dari pekerja yaitu mendapatkan upah yang sesuai dengan hasil pekerjaan, kewajiban para pekerja yaitu menyelesaikan pekerjaan tersebut seperti apa yang diharapkan majikan. Sebaliknya dengan yang majikan, hak majikan yaitu mendapatkan hasil dari pekerjaan tersebut sesuai dengan harapan, kewajibannya yaitu memberi upah kepada pekerja sesuai dengan ketentuan-ketentuan dalam Islam.

Kegiatan seperti ini dalam Islam di sebut dengan Ijarah (Ijarah pekerjaan) yaitu ijarah yang berhubungan dengan sewa jasa, yaitu mempekerjakan jasa seseorang dengan upah sebagai imbalan  jasa yang disewakan. Pihak yang mempekerjakan disebut mustajir, pihak pekerja disebut ajir dan upah yang dibayar disebut dengan ujrah.

Dewasa ini upah atau pengupahan dalam dunia kerja merupakan salah satu dari bagian hak pekerja atas kegiatan bermuamalah, upah sendiri tidak lepas dari masalah yang tidak pernah selesai dan selalu diperdebatkan. Baik dari pihak tenaga kerja maupun pihak yang memperkerjakan/ pengusaha. Dalam pasal 1 (30) Undang-undang  No. 13 Tahun 2003 tentang “Ketenagakerjaan,”  upah adalah hak pekerja/ buruh yang diterima dan dinyatakan dalam bentuk uang sebagai imbalan dari perusahaan atau pemberi kerja kepada pekerja/ buruh yang ditetapkan dan dibayarkan menurut perjanjian kerja. Pekerja/ buruh mendapatkan upah disesuaikan dengan seberapa giat manusia tersebut bekerja.  Dalam konsep Islam pada dasarnya menuntut keadilan sebagai hak atas apa yang telah dikerjakan itu wajib karena islam sendiri menganjurkan keadilan serta kemaslahatan bagi umat manusia.

Penulis memilih Desa Kampung Hilir Kecamatan Serasan karena melihat keadaan langsung dilapangan bahwasanya di Desa Kampung Hilir ini terdapat banyak orang yang berprofesi sebagai pekerja bangunan, jam kerja pekerja bangunan yang telah di tetapkan yaitu ( pagi) jam 07.00 -11.00 kemudian ( sore ) jam 13.00-16.00, besaran upah pekerja tersebut yaitu Rp.100.000/ harinya. Tapi dengan upah sebesar itu apakah ini sudah sesuai dengan hasil kerja yang diharapkan oleh mustajjir, karena melihat dimana para pekerja juga masih ada yang belum maksimal dalam bekerja, maka dari itu penulis tertarik meneliti masalah ini karena ingin melihat apakah upah pekerja bangunan sebesar Rp.100.000 per harinya di Desa Kampung Hilir ini sudah sesuai dengan hasil kerja mereka. Pekerja harus memberikan hasil yang maksimal dari hasil kerja mereka, sehingga tidak ada pihak yang di rugikan dan begitu juga sebaliknya, Mustajjir juga harus membayarkan hasil kerja mereka.

Dari observasi sementara, penulis menemukan berbagai gejala-gejala yang sering terjadi dalam pemberian upah pekerja bangunan oleh masyarakat Desa Kampung Hilir Kecamatan Serasan, gejala-gejala tersebut antara lain :

  1. Upah pekerja bangunan di Desa Kampung Hilir ini masih terlalu tinggi
  2. Hasil pekerjaan para pekerja belum memberikan hasil yang maksimum dari apa yang diharapkan mustajjir.
  3. Gaji yang diberikan tidak sesuai dengan hasil yang telah dikerjakan.

Islam memiliki pandangan sendiri tentang upah (Ujrah), konsep yang ditawarkan lebih kepada rasa keadilan dan kemaslahatan guna memenuhi kebutuhan masing-masing antara pekerja dengan  majikan atas manfaat yang didapatkan. Ujrah dalam islam tidak lepas dari dimensi dunia dan akhirat yang berlandaskan Al-Qur’an dan Hadist.

Dasar hukum Al-qur’an tentang upah (Ujrah).

Al-Qur’an Surah Al –Qashash : 26

ôMs9$s% $yJßg1y‰÷nÎ) ÏMt/r’¯»tƒ çnöÉfø«tGó™$# ( žcÎ) uŽöyz Ç`tB |Nöyfø«tGó™$# ‘“Èqs)ø9$# ßûüÏBF{$# ÇËÏÈ

Artinya :“Salah seorang dari kedua wanita itu berkata : “ ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat di percaya”.[3]

 

Hadist tentang Ujrah

Diriwayatkan hadist (H.R.Bukhari).

Artinya :“Apabila pelayanmu tidak duduk sama denganmu maka berikanlah makanan dan pakaian kepada pelayan dan budak sebagaimana kebiasaannya dan berilah mereka pekerjaan sesuai dengan kemampuannya”.

 

Persoalan pengupahan ini merupakan pokok karena dari sekian sekian banyak persoalan perburuhan banyak yang disebabkan oleh persoalan ini, bahkan persoalan-persoalan lain, langsung atau tidak langsung disebabkan oleh persoalan upah.4

Hubungan manusia dengan Allah dan hubungan manusia dengan manusia harus seimbang, Islam memberikan selebar-lebarnya kepada manusia untuk melakukan kegiatan dalam dunia pekerjaan. Disisi lain Undang-Undang No.13 Tahun 2003 tentang ketenagakerjaan, semua hal yang berkaitan dengan dunia kerja diatur baik mengenai waktu, penetapan upah yang didapat, hak dan kewajiban, serta syarat-syarat yang harus dikerjakan.

Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis sangat tertarik untuk meneliti masalah ini, dengan judul : KESESUAIAN UPAH PEKERJA BANGUNAN  DITINJAU DARI  AKAD UJRAH  DI DESA KAMPUNG HILIR KECAMATAN SERASAN.

  1. Alasan Pemilihan Judul

Adapun alasan memilih penulis memilih judul di atas dalam penelitian ini adalah:

  1. Penulis merasa mampu untuk melakukan penelitian ini baik dari segi waktu, dana, jarak yang ditempuh dalam penelitian ini.
  2. Sepengetahuan penulis bahwa masalah ini belum pernah diteliti.
  3. Masalah yang dikaji sesuai dengan ilmu yang penulis pelajari yaitu masalah Ekonomi Syariah.

 

  1. Permasalahan
  2. Identifikasi Masalah

Berdasarkan masalah pokok di atas maka masalah-masalah yang menjadi kajian ini dapat di identifikasi adalah sebagai berikut :

  1. Apakah besaran upah pekerja bangunan di Desa Kampung Hilir ini sudah sesuai dengan hasil yang diharapkan mustajjir ?
  2. Apakah nilai-nilai keadilan sudah terpenuhi dalam kegiatan kerja bangunan di Desa Kampung Hilir Kecamatan Serasan ?
  3. Apakah pekerja bangunan bekerja atas kemauannya sendiri ?
  4. Apakah waktu pelaksanaan pembangunan dapat terselesaikan tepat waktu oleh pekerja ?
  5. Apakah pemberian upah pekerja sudah memenuhi kriteria syarat-syarat dalam Ujrah

 

 

  1. Pembatasan Masalah

Mengingat luasnya permasalahan dalam penelitian ini, maka untuk supaya peneliti sanggup dalam melakukan penelitian ini, peneliti merasa perlu membatasinya. Adapun permasalahan yang peneliti teliti dalam masalah ini adalah : “Kesesuaian Upah Pekerja Bangunan di Tinjau Dari Akad Ujrah di Desa Kampung Hilir Kecamatan Serasan.”

 

  1. Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimanakah Kesesuaian Upah Pekerja Bangunan Ditinjau Dari Akad Ujrah di Desa Kampung Hilir Kecamatan Serasan.”

 

  1. Penegasan Istilah

Untuk menghindari kesalahan dalam memahami judul penelitian maka perlu adanya penegasan istilah:

  1. Kesesuaian

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Kesesuaian adalah  Keselarasan (tentang pendapat, paham nada kombinasi warna, dan sebagainya) kecocokan.[4]

 

 

  1. Upah

Upah dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah uang dan sebagainya yang dibayarkan sebagai pembalasan jasa atau sebagai pembayaran tenaga yang sudah dilakukan untuk mengerjakan sesuatu.[5]

  1. Pekerja/ Buruh

Pekerja/ Buruh adalah orang yang bekerja untuk orang lain dengan mendapatkan upah pekerja.[6]

  1. Ujrah

Ujrah (upah) adalah uang dan sebagainya yang dibayarkan sebagai pembalasan jasa atau sebagai pembayaran tenaga yang sudah dikeluarkan untuk mengerjakan sesuatu.[7]

 

  1. Tujuan dan Kegunaan Penelitian
  2. Tujuan Penelitian

Sesuai dengan identifikasi dan perumusan masalah diatas, tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah:

  1. Untuk mengetahui kesesuaian upah pekerja bangunan di tinjau dari akad Ujrah di Desa Kampung Hilir Kecamatan Serasan.
  2. Untuk melengkapi dan memenuhi salah satu syarat akademik guna memperoleh gelar Sarjan Ekonomi Syariah (SE.Sy) di program Studi Ekonomi Syariah Sekolah Tinggi Agama Islam Natuna.

 

  1. Kegunaan Penelitian
  2. Sebagai salah satu referensi bagi pihak lain yang akan melakukan penelitian yang sama untuk kasus maupun lokasi yang berbeda.
  3. Bagi penulis, dapat dijadikan perbandingan antara teori dan praktek, mengetahui kendala yang dialami saat pelaksanaanya, menambah pengalaman dan ilmu pengetahuan tentang ekonomi syariah terutama yang berkaitan dengan judul
  4. Memberikan sumbangan pemikiran sehingga dari hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan informasi bagi pihak lain.

 

  1. Sistematika Penulisan

Untuk mempermudah penulisan ini maka penulis membagi ke dalam 5 (lima) bab. Adapun pokok yang di bahas pada masing-masing bab dapat di kemukakan sebagai berikut:

BAB 1 : PENDAHULUAN

Pada bab ini penulis menguraikan latar belakang, alasan memilih judul, permasalahan yang memuat identifikasi pembahasan, perumusan masalah, penegasan istilah, tujuan dan kegunaan penelitian, sistematik pembahasan.

 

BAB II : TINJAUAN PUSTAKA

Pada bab ini akan menguraikan pengertian kesesuaian, kesesuaian upah, pengertian pekerja, defenisi upah, tingkat upah, defenisi ujrah, dasar hukum ujrah.

BAB III : METODOLOGI PENELITIAN

Pada bab ini penulis menguraikan tentang lokasi penelitian, subjek dan objek penelitian, populasi dan sampel,  teknik pengumpulan data, teknik analisis data.

 

BAB IV : PENYAJIAN DAN ANALISIS DATA

Pada bab ini penulis menguraikan tinjauan umum lokasi / subjek penelitian, penyajian data, temuan penelitian pembahasan.

 

BAB V :   PENUTUP

Pada bab ini merupakan bab yang terakhir yang berisikan kesimpulan serta saran-saran yang berguna bagi lembaga dalam kesesuaian pemberian upah.

 

 

[1] Afzalur Rahman, Dokrin Ekonomi Islam, (Yogyakarta, PT. Dana Bakti Wakaf, 1995), hal  251-252

 

[2] Kitab Al-Qur’an Al fatih Dengan Alat Peraga Tajwid Kode Arab, (Jakarta; PT. Insan Media Pustaka, 2012) , hal 578

[3] Ibidhal 388

4 Eggi Sudjana,Buruh menggugat ,Perspektif Islam (Jakarta : Pustaka Sinar Harapan, 2002), hal  84

 

[4] http://www.http..kamus.cektkp.com / kesesuaian ,diakses  tanggal 29 oktober  2015

 

[5] http://www.http//kbbi.web.id/upah, diakses  tanggal  26 oktober  2015

[6] http://www.http//kbbi.web.id/buruh, diakses  tanggal  24 oktober 2015

[7] http://www.http//kbbi.web.id/upah, diakses  tanggal  23 November 2015

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

  1. Kajian Teoritis
    1. Pengertian Ketenagakerjaan

Pengertian Ketenagakerjaan menurut UU No 13 Tahun 2013 adalah segala hal yang berhubungan dengan tenaga kerja pada waktu sebelum, selama, dan sesudah masa kerja. Tenaga kerja adalah setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang dan/ atau jasa baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun untuk masyarakat. Pekerja/buruh adalah setiap orang yang bekerja dengan menerima upah atau imbalan dalam bentuk lain. Pemberi kerja adalah orang perseorangan, pengusaha, badan hukum, atau badan-badan lainnya yang mempekerjakan tenaga kerja dengan membayar upah atau imbalan dalam bentuk lain.[1]

Tenaga kerja didefenisikan sebagai sekumpulan orang yang mempunyai keinginan dan kemampuan untuk mengerjakan suatu pekerjaan, pada tingkat gaji atau upah tertentu dalam rentang waktu tertentu. Setiap tenaga kerja memperoleh balas jasa berupa upah atau gaji, yang telah ditentukan sebelumnya.

https://hengusblog.wordpress.com

Hak-Hak Dan Kewajiban Pekerja

Mengenai hak-hak pekerja antara lain sebagai berikut :[2]

  • Hak mendapat upah atau gaji ( Pasal 1602 KUH Perdata, Pasal 88 s/d 97 Undang-undang No 13 Tahun 2003, Peraturan Pemerintah No.8 Tahun 1981 tentang Perlindungan Upah).
  • Hak atas pekerjaan dan penghasilan yang layak bagi kemanusiaan (Pasal 4 Undang-undang No.13 Tahun 2003).
  • Hak bebas memilih dan pindah pekerjaan sesuai bakat dan kemampuannya (Pasal 5 Undang-undang No.13 Tahun 2003).
  • Hak atas pembinaan keahlian kejuruan untuk memperoleh serta menambah keahlian dan keterampilan ( Pasal 9-30 Undang-undang NO.13 tahun 2003).
  • Hak mendapatkan perlindungan atas keselamatan, kesehatan serta perlakuan yang sesuai dengan martabat manusia dan moral agama (Pasal 3 Undang-undang No.3 Tahun 1992 tentang Jamsostek).
  • Hak mendirikan dan menjadi anggota Perserikatan Tenaga Kerja ( Pasal 104 Undang-undang No.13 Tahun 2003. Undang-undang No.21 Tahun 2000 tentang Serikat Pekerja/ Serikat Buruh).
  • Hak atas istirahat tahunan, tiap-tiap kali setelah ia mempunyai masa kerja 12 (dua belas) bulan berturut-turut pada satu majikan atau beberapa majikan dari satu organisasi majikan (Pasal 79 Undang-undang No.13 Tahun 2003).
  • Hak atas suatu pembayaran pengganti istirahat tahunan (Pasal 150-172 Undang-undang No.13 Tahun 2003).
  • Hak untuk melakukan perundingan atau penyelesaian perselisihan industrial melalui bipartit, konsoliasi, arbitrase dan penyelesaian melalui pengadilan (Pasal 6-115 Undang-undang No.2 Tahun 2004).

Disamping mempunyai hak-hak sebagaimana diuraikan diatas, pekerja juga mempunyai kewajiban sebagai berikut :

  • Wajib melakukan prestasi/ pekerjaan bagi majikan.
  • Wajib mematuhi aturan perusahaan.
  • Wajib mematuhi perjanjian kerja.
  • Wajib mematuhi perjanjian perburuhan.
  • Wajib menjaga rahasia perusahaan.

 

  1. Konsep Kerja Dalam Islam

Taqwa merupakan dasar utama kerja, apapun bentuk dan jenis pekerjaan, maka taqwa merupakan petunjuknya. Memisahkan antara taqwa dengan iman berarti mengucilkan Islam dan aspek kehidupan dan membiarkan kerja berjalan pada wilayah kemaslahatannya sendiri. Perlu kiranya dijelaskan disini bahwa kerja mempunyai etika yang harus selalu diikut sertakan didalamnya, oleh karenannya kerja merupakan bukti adanya iman dan barometer bagi pahala dan siksa. Hendaknya setiap pekerjaan disamping mempunyai tujuan akhir berupa upah atau imbalan, namun harus mempunyai tujuan utama, yaitu memperoleh keridhaan Allah SWT. Prinsip inilah yang harus dipegang teguh oleh umat Islam sehingga hasil pekerjaan bermutu sepanjang zaman.

https://hengusblog.wordpress.com

  1. Upah (Ujrah)
    1. Pengertian Upah (Ujrah)

Upah dalam bahasa Arab disebut Al-ujrah. Dari segi bahasa al-ajru yang berarti ‘iwad (ganti), oleh sebab itu al-sawal (pahala) dinamakan juga al –ajru atau al-ujrah (upah). Pembalasan atas  jasa yang diberikan sebagai imbalan atas manfaat suatu pekerjaan. Menurut Idris Ahmad bahwa upah artinya mengambil tenaga orang lain dengan jalan memberi ganti menurut syarat-syarat tertentu.[3]

Menurut Afzalurrahman Upah adalah harga yang dibayarkan pekerja atas jasanya dalam produksi kekayaan, seperti faktor produksi lainnya, tenaga kerja diberi imbalan atas jasanya, dengan kata lain, upah adalah harga dari tenaga yang dibayar atas jasanya dalam produksi.[4]

Nurimansyah Haribuan juga mendifinisikan bahwasannya upah adalah segala macam bentuk penghasilan (earning) yang diterima buruh (tenaga kerja) baik berupa uang ataupun barang dalam jangka waktu tertentu pada suatu kegiatan ekonomi.[5]

Upah dapat didefenisikan dengan sejumlah uang yang dibayar oleh orang yang memberi pekerjaan kepada seorang pekerja atas jasa sesuai perjanjian.[6]  Sedangkan upah dalam Undang-Undang RI no 13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan adalah hak buruh yang diterima dan dinyatakan dalam bentuk uang sebagai imbalan dari pengusaha atau pemberi kerja kepada pekerja atau buruh yang ditetapkan dan dibayarkan menurut suatu perjanjian kerja, kesepakatan atau peraturan perundang-undangan, termasuk tunjangan bagi  pekerja atau buruh dan keluarganya atas suatu pekerjaan dan atau jasa yang telah dilakukan.[7]

Dari defenisi diatas maka dapat disimpulkan bahwa upah adalah pembayaran atas penyerahan jasa yang dilakukan oleh karyawan berdasarkan jumlah pekerja yang telah diselesaikan misalnya jumlah unit produksi. Berdasarkan prinsip keadilan, upah masyarakat Islam akan ditetapkan melalui negosiasi antara pekerja, majikan, dan negara. Dalam pengambilan keputusan tentang Upah (ujrah) maka kepentingan pencari nafkah dan majikan akan dipertimbangkan secara adil. Untuk menjadi tanggung jawab negara Islam, dapat mempertimbangkan tingkat ujrah yang ditetapkan agar tidak terlalu rendah sehingga tidak mencukupi biaya kebutuhan pokok para pekerja juga tidak terlalu tinggi yang mengakibatkan majikan kehilangan baginya yang sesungguhnya dari hasil kerjasama itu. Agar dapat menetapkan suatu tingkat upah yang cukup, negara perlu menetapkan terlebih dahulu tingkat upah minimumnya dengan mempertimbangkan perubahan kebutuhan pokok dari pekerja golongan bawah dan dalam keadaan apapun tingkat upah ini tidak akan jatuh. Tingkat minimum ini sewaktu-waktu harus ditinjau kembali untuk melakukan penyesuaian berdasarkan perubahan tingkat harga dan biaya hidup. Tingkat maksimumnya tentu akan ditetapkan berdasarkan sumbangsih tenaga dan akan sangat bervariasi. Dengan demikian tugas utama negara adalah memperhatikan agar setiap pekerja dalam negara memperoleh upah yang cukup untuk mempertahankan suatu tingkat kehidupan yang wajar.[8] Taqiyyudin an-Nabhani dalam bukunya “pemerintah berhak memaksa pihak-pihak yang bergerak di bidang produksi jika masyarakat membutuhkan jasa mereka, seperti petani (produsen padi), penjahit (produsen sandang), dan tukang bangunan (produsen papan) untuk menjual jasa mereka dengan menerima sejumlah upah yang sepadan (ujrah al-misli)[9].

Berdasarkan pertimbangan tersebut di atas, maka upah menurut pandangan Islam dibagi menjadi beberapa tingkatan:[10]

  1. Tingkat upah minimum
  2. Upah tertinggi
  3. Tingkat upah yang sesungguhnya

Dalam keputusan Menteri Tenaga Kerja No.150 Tahun 2001 dan Keputusan Menteri Keuangan tentang PPh pasal 21 tahun 2003, dijelaskan mengenai tingkat upah yang diterima karyawan. Upah yang diterima karyawan dibagi atas beberapa golongan antara lain[11] :

  • Upah Harian Lepas

Upah yang diterima bila dalam satu hari kerja jika seseorang melakukan pekerjaan yang telah ditentukan. Orang yang bekerja dengan upah harian lepas biasanya tidak terikat kerja kepada majikan.

  • Upah Pegawai Tetap

Upah yang diperoleh seseorang berdasarkan jangka waktu yang telah ditetapkan dengan jumlah yang diterimanya pun bersifat tetap seperti gaji bulanan.

  • Upah Borongan

Upah yang diperoleh seseorang sesuai kesepakatan antara pekerja (ajir) dengan majikan (mustajjir) dan besarnya upah yang diterima juga tergantung kesepakatan diantara kedua belah pihak, jenis pekerjaan yang telah disepakati ini harus selesai dilakukan tanpa campur tangan dari mustajjir.

  • Upah Honorium

Upah yang diterima jika pekerjaan dilakukan dan sedangkan jumlahnya tergantung dari kesepakatan pekerja dengan majikan. Orang yang menerima upah honorium biasanya tidak terikat kerja dengan majikan.

Disyaratkan agar upah (Ujrah) dalam transaksi ijarah harus jelas, dengan bukti dan ciri yang bisa menghilangkan ketidakjelasan. Apabila tidak jelas, maka tidak sah. Apabila transaksi Ijarah tersebut telah dilakukan terhadap suatu pekerjaan, dimana bagi pekerjanya berhak memperoleh gaji karena transaksi tersebut, maka upah tersebut tidak wajib diserahkan kecuali bila pekerjaannya selesai, sehingga begitu pekerjaanya selesai, gaji tersebut harus segera diberikan.[12] Apabila gaji tersebut diberikan dengan suatu tempo, maka harus diberikan sesuai dengan temponya. Apabila disyaratkan untuk diberikan harian, atau bulanan, atau kurang dari itu, ataupun lebih, maka gaji tersebut tetap harus diberikan sesuai dengan kesepakatan tadi. Menurut Taussig, teori dana upah hampir seratus tahun telah menjadi kontroversi.[13]

Mengenai penyerahan upah ini secara terperinci dalam Islam telah memberikan pedoman yaitu selesainya pekerjaan dan mempercepat dalam bentuk pelayanan atau kesepakatan kedua belah pihak sesuai dengan syarat yaitu mempercepat pembayaran upah pekerja. berdasarkan prinsip keadilan upah dalam masyarakat Islam ditetapkan melalui negosiasi antar pekerja pengusaha dan negara, serta pemerintah mempunyai peran penting dalam penetapan upah agar di antara pihak tidak terjadi penganiayaan, dalam Islam dijelaskan bahwa antar pekerja dan pengusaha dilarang berbuat aniaya, keadilan  mereka harus ditegakkan Pengusaha harus membayar pekerja dengan bagian yang seharusnya mereka terima sesuai dengan kerjanya begitu juga pekerja dilarang memaksa pengusaha untuk membayar melebihi kemampuannya, dalam pelaksanaan pemberian upah yang merupakan hak pekerja.

https://hengusblog.wordpress.com

  1. Bentuk Upah

Sesuai dengan ‘urf  upah (ujrah) bisa berbentuk uang yang dibagi menurut ketentuan yang seimbang tetapi upah dapat berbentuk selain itu, upah dapat dibedakan menjadi dua bentuk, yaitu[14] :

  • Upah yang telah disebutkan dalam perjanjian dan dipersyaratkan, ketika disebutkan harus disertai adanya kerelaan dari kedua belah pihak dengan upah yang telah ditetapkan tersebut dan tidak ada unsur paksaan. Upah ini disebut dengan Ajrun Musamma.
  • Upah yang sepadan dengan kondisi pekerjaannya baik sepadan dengan jasa kerja maupun sepadan dengan pekerjaannya saja. Upah ini disebut dengan Ajrun Mitsil
  1. Syarat-Syarat Upah ( Ujrah )

Syarat-syarat upah yang harus dipenuhi adalah sebagai berikut[15] :

  • Upah hendaknya jelas dengan bukti dan ciri yang bisa menghilangkan ketidakjelasan, maksudnya besar kecilnya upah dan bentuk upah disebutkan.
  • Upah harus dibayarkan segera mungkin atau sesuai waktu yang ditentukan dalam akad.
  • Upah tersebut bisa dimanfaatkan oleh pekerja (ajir) untuk memenuhi kebutuhan kehidupannya dan keluarganya ( baik dalam bentuk uang atau barang dan jasa
  1. Standar Kelayakan Upah (Ujrah)
  2. Standar Kelayakan Upah di Indonesia

Upah adalah  hak pekerja yang diterima dan dinyatakan dalam bentuk uang sebagai imbalan dari pengusaha atau pemberi kerja pada pekerja/ buruh yang ditetapkan dan dinyatakan menurut suatu perjanjian kerja, kesepakatan, peraturan pemerintah, termasuk tunjangan bagi pekerja dan keluarganya atas suatu pekerjaan. Ini membuktikan bahwa hak pekerja telah diatur dalam perjanjian dan peraturan perundang-undangan juga mempertimbangkan pekerja yang sudah bekeluarga untuk memberi upah yang layak. Hasil amandemen Undang-undang 1945 dikatakan bahwa

Setiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan.”[16]

Telah disebutkan dengan jelas dalam Undang-Undang Dasar tersebut, bahwa seluruh warga negara Indonesia berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak dan sejahtera dari pemerintah. Menjadikan undang-undang itu sebagai pondasi utama untuk memelihara warganegara Indonesia khususnya mendapat pekerjaan dan upah yang sesuai.

  1. Standar Kelayakan Upah Dalam Islam

Standar kelayakan upah adalah suatu rambu-rambu pengupahan yang dikenal dengan upah minimum, sedangkan dalam Islam secara praktis tidak menyebut sistem dan besaran upah yang layak untuk diberikan, tetapi Islam memberi gambaran umum bagaimana etika tata cara dalam sistem ekonomi khususnya memberi upah kepada yang berhak. Islam lebih menekankan upah pada konsep moral, tidak hanya sebatas materi tetapi menembus batas kehidupan yakni dimensi akhirat, yang disebut pahala.[17] Rambu-rambu pengupahan dalam Islam ada 2 yaitu adil dan layak, adil bermakna jelas dan transparan serta proposional, sedangkan layak berarti cukup pangan, sandang, papan serta sesuai dengan keadaan ekonomi saat itu.

Upah termasuk dalam syari’at Islam yang pada pokoknya bertujuan untuk kemaslahatan manusia baik didunia dan akhirat. Kemaslahatan itu akan terwujud dengan cara terpeliharanya kebutuhan yang bersifat daruriyat, hajiyat, dan terealisasinya kebutuhan tahsiniyat bagi manusia itu sendiri.[18] Kebutuhan Daruriyat yaitu segala hal yang menjadi eksistensi kehidupan manusia yang harus ada demi kemaslahatan mereka. Kebutuhan Hajiyat adalah segala sesuatu yang sangat dihajatkan menusia untuk menghilangkan  segala kesulitan dan menolak segala halangan. Sedangkan kebutuhan Tahsiniyah yaitu tindakan atau sifat-sifat yang pada prinsipnya berhubungan dengan al-Makarim al-Akhlaq.[19] Perlu ditegaskan bahwa ketiga jenis kebutuhan manusia tersebut dalam mencapai kesempurnaan syar’i maka sulit untuk dipisahkan satu sama lain. Kebutuhan yang paling esensial adalah daruriyat. Ketiga jenis kebutuhan tersebut merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan.

Dalam pola masyarakat Islam, upah yang layak bukanlah suatu konsesi, tetapi suatu hak asasi, yang dapat dipaksakan oleh seluruh suatu kekuasaan negara.[20] Disemua negara Islam seluruh dunia, sangat perlu ditegaskannya kembali cita-cita dinamik yang mengatur undang-undang perburuhan, dan menerima prinsip hak-hak buruh yang diakui dunia, hak untuk mogok, mendapat upah yang layak, jaminan sosial, dan lainya.

https://hengusblog.wordpress.com

  1. Faktor –Faktor Yang Mempengaruhi Sistem Pengupahan[21] :
  2. Tingkat upah dan gaji yang berlaku. Salah satu faktor yang harus dipertimbangkan ialah langka atau tidaknya tenaga kerja yang memiliki pengetahuan dan keterampilan khusus tertentu dan sangat dibutuhkan oleh organisasi yang bersangkutan.
  3. Tuntutan serikat pekerja. Di masyarakat eksistensi serikat pekerja diakui, sangat mungkin terdapat keadaan bahwa serikat pekerja berperan dalam mengajukan tuntutan tingkat upah dan gaji yang lebih tinggi dari tingkat yang berlaku.
  4. Agar mampu mencapai tujuan dan berbagai sasarannya, suatu organisasi memerlukan tenaga kerja yang produktif. Apabila para pekerja merasa bahwa mereka tidak memperoleh imbalan yang wajar, sangat mungkin mereka tidak akan bekerja keras. Artinya, tingkat produktivitas mereka akan rendah.
  5. Kebijakan organisasi mengenai upah dan gaji. Kebijakan suatu organisasi mengenai upah dan gaji bagi para karyawannya tercermin pada jumlah uang yang dibawa pulang oleh para karyawan tersebut.
  6. Peraturan perundang-undangan. Pemerintah berkepentingan dalam bidang ketenagakerjaan dan oleh karenanya berbagai segi kehidupan kekaryaan pun diatur dalam berbagai peraturan perundang-undangan. Misalnya tingkat upah minimum, upah lembur, mempekerjakan wanita, mempekerjakan anak dibawah umur, keselamatan kerja, hak cuti, jumlah jam kerja dalam seminggu, hak berserikat dan lain sebagainya.

Jelaslah bahwa suatu sistem pengupahan yang baik tidak bisa dilihat dari satu sudut kepentingan saja, misalnya organisasi pemakai tenaga kerja saja atau kepentingan karyawan saja, akan tetapi kepentingan dari berbagai pihak yang turut terlibat, baik langsung maupun tidak langsung.

https://hengusblog.wordpress.com

  1. Sistem Upah (Ujrah) dalam Islam

Ada perbedaan pendapat yang besar dikalangan ekonomi mengenai masalah penetapan upah. Seberapa upah seorang pekerja yang harus diterima atau bagaimana upah tersebut ditetapkan. Sebagian mengatakan bahwa upah ditetapkan berdasarkan tingkat kebutuhan hidup, lainnya menetapkan berdasarkan Produktifitas Marginal.[22]

Islam mewujudkan suatu penyelesaian yang sangat baik atas masalah upah dan menyelamatkan kepentingan kedua belah pihak, kelas pekerja dan para majikan tanpa melanggar hak-hak yang sah dari majikan. Seorang tidak dibenarkan bertindak kejam terhadap kelompok pekerja dengan menghilangkan hak sepenuhnya dari bagian mereka. Upah ditetapkan dengan cara yang paling tepat tanpa harus menindas pihak manapun. Setiap pihak memperoleh bagian yang sah dari hasil kerjasama mereka tanpa adanya ketidakadilan terhadap pihak lain.

[1] Undang-Undang Republik Indonesia No.13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan

[2] Undang-Undang Republik Indonesia No.13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan

 

 

[3]Hendi Suhendi, Fiqh Muamalah…hal. 115

[4] Zainal Asikin dkk, Dasar-Dasar H ukum Perburuhan, (Jakarta , Rajawali Pers 2010), hal 68

[5] Afzalur Rahman, Doktrin Ekonomi Islam jilid 2,(Yogyakarta, PT. Dana Bakti  Prima Yasa 1995),  hal 361

 

[6] Afzalur Rahman,.Dokrin Ekonomi Islam…,hal 366-380

[7] Undang-Undang RI no 13 Tahun 2003, Tentang Ketenagakerjaan, hal.  4

[8] Afzalur Rahman,.Dokrin Ekonomi Islam…,hal 366-380

[9] Taqyuddin An-Nabhani, Membangun Sistem ekonomi Alternatif: perspektif Islam, (Surabaya, Risalah Gusti, 2002) , hal 103

[10] Afzalur Rahman, Dokrin Ekonomi Islam…,hal 365-374

[11]  Keputusan Menteri Tenaga Kerja No.150 Tahun 2001 Dan Keputusan Menteri Keuangan Tentang PPh Pasal 21 Tahun 2003, Dikutip Dari ww.Kajianpustaka.Com/2012/10/Gaji-Dan-Upah.Html?M=1, Diakses  Tanggal 17 Desember 2015

 

[12] Taqyuddin An-Nabhani, Membangun Sistem ekonomi Alternatif: perspektif Islam, hal 90

[13] Ibid …87

[14] Taqiyuddin An Nabhani, Sistem Ekonoimi Islam, (Bogor: Al Azhar Press, 2009) Hal 102

 

[15] Ibid…hal 103

 

[16] Pasal 27 Ayat (27), lihat skripsi, Heri Setiawan, Upah pekerja/ Buruh Perspektif Hukum Positif dan hukum islam, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, (Yogyakarta, 2014)

[17] Muhammad Darwis, Upah Minimum Regional Perbandingan Hukum Positif Dan Hukum Islam,( Yogyakarta, Jurnal Hukum Islam, Volume XI No.1). hal.118

[18] Alaiddin Koto, Ilmu Fiqh Dan Ushul Fiqh, (Jakarta , PT Raja Grafindo Persada, 2009) hal  122

[19] Ibid…hal 122-125

[20] Muhammad  Abdul  Manam, Teori Dan Praktek Dasar-Dasar Ekonomi Islam, Alih Bahasa M.Nastangin, (Yogyakarta, PT Dana Bhakti Prima Yasa, 1997)  hal.117

[21] Sondang P. Siagian, Manajemen Sumber Daya Manusia, (Jakarta,PT.Bumi Aksara,2010),  hal 263-267

[22] Afzalur Rahman, Dokrin Ekonomi Islam…, hal 362

Camera 360

Camera 360

Camera 360

Camera 360

Camera 360

Camera 360

Camera 360

Camera 360

Camera 360

Camera 360

Camera 360

Camera 360

Camera 360

Camera 360

Camera 360

Camera 360

Camera 360

Camera 360

Camera 360

Camera 360

Camera 360

Camera 360

Camera 360

Camera 360

Camera 360

Camera 360

Camera 360

Camera 360

Camera 360

Camera 360

Camera 360

Camera 360

PENGERTIAN KEWIRAUSAHAAN

Posted: September 20, 2015 in Uncategorized

PENGERTIAN KEWIRAUSAHAAN.
Secara sederhana arti wirausahaan (enterpreneur) adalah oraag yang berjiwa berani mengambil resiko untuk membuka usaha dalam berbagai kesempatan.

http://www.heggusblogwordpress.com

A.konsep pemasaran
Pemasaran berpangkal dari kebutuhan pembeli yang belum terpenuhi dalam hal produk,kualitas,harga,kemudahan mendapatkan sparepart dan sebagainya.Produk bukan satu-satunya penjamin kepuasan konsumen,akan tetapi ada beberapa variable yang sangat mempengaruhi kepuasan harga konsumen yakni harga produk,lokasi,distribusi dan sebagainya.apabila konsumen merasa puas,maka ia akan kembali dan tetap bertahan dengan produk kita dan memberitahu kepada pihak lain untuk membeli dari kita.
Istilah-istilah mendasar pada pemasaran yang harus diketahui antara lain :
http://www.heggusblogwordpress.com
kebutuhan (needs)
Suatu keadaan dimana seseorang merasa kekurangan terhadap pemuas dasar .contoh : makan,minum,pakaian,tempat tinggal,keamanan,dan lain lain.
keinginan (want)
Hasrat atau kehendak yang kuat akan pemuas kebutuhan spesifik
Contoh : nasi goreng,es the, dan lain lain.
-permintaan ( Demans)
Keunginan akan produk spesifik yang didukung oleh kemampuan dan kesediaan untuk membelinya.
– produk (product)
Segala sesuatu yang dapat ditawarkan untuk memuaskan suatu kebutuhan dan keinginan
– nilai (Value)
Perkiraan konsumen atas seluruh produk untuk memuaskan kebutuhan.
-biaya (cost)
Sesuatu atau seluruh yang dikorbankan untuk mendapatkan / memuaskan kebutuhan.
-kepuasan (satisfaction)
Perasaan senang atau kecewa seseorang yang berasal dari perbandingan antara kesannya terhadap kinerja (hasil) suatu produk dan harapan-harapannya.
-pertukaran (exchange)
Tindakan memperoleh produk yang dikehendaki dari seseorang dengan menawarkan sesuatu sebagai imbalan.
– pasar (market)
Terdiri dari semua pelanggan potensial yang memiliki kebutuhan dan keinginan tertentu yang sama yang mungkin bersedia dan mampu melaksanakan pertukaran untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan.
http://www.heggusblogwordpress.com
Untuk mendapatkan hasil pemasaran yang sesuai dengan harapan,maka harus mengikuti tahapan-tahapan atau proses pemasaran sebagai berikut :
* pengenalan pasar : yaitu untuk mengetahui potensi pembeli/konsumen dan mengetahui kebutuhannya.
* strategi pasar : merupakan tindak lanjut dari pengenalan pasar,menyangkut strategi yabg akan diterapkan dalam memasarkan produk agar dapat diterima pasar.
* bauran pasar : merupakan alat yang digunakan dalam menjalankan strategi yang telah dipilih.Dalam bauran pemasaran ini,akan ditentukan bagaimana unsur-unsur produk,harga,lokasi,/sistem distribusi yang akan dituju.
* evaluasi : harus dilakukan untuk melihat sejauh mana proses pemasaran dijalankan dan apakah ada perbaikan yang terjadi dalam usaha yang dilakukan .
http://www.heggusblogwordpress.com

STRATEGI PEMASARAN BAAK SYARIAH
Strategi pemasaran Bank Syariah merupakan salah satu langkah yang harus ditempuh dalam memasarkan produk atau jasa perbankan yang ditujukan pada peningkatan penjualan.
Strategi pasar dapat dilakukan dengan memperhatikan aspek-aspek berikut :
_ pelanggan atau fokus segmen bank syariah.
– prioritas layanan dan penentuan harga barang/ jasa
– preferensi teritorial/ wilayah pasar.
-saluran distribusi.
-image atau kondisi perusahaan ( bank syariah )
http://www.heggusblogwordpress.com

Teknik yang membantu dalam pengenalan pasar antara lain :
A.teknik pengelompokan pasar.
1) lokasi tempat tinggal.seperti desa, pinggiran,kota .dll
2 )jenis kelompok konsumen .seperti:
Konsumen perumahan,flat,apartement,dll.
3)Demografis.berdasarkan :
* tingkat pendapatan
* umur
* pendidikan
4) psikologis,berdasarkan :
* gaya hidup
* tren.
5) jumlah yang dibeli
* untuk pakai sendiri.
* untuk pengecer.
* untuk industri.
http://www.heggusblogwordpress.com
TEKNIK DAUR KEHIDUPAN PRODUK (Product Life Cycle)
produk suatu indystri merupakan hal yang bergerak mengikuti kemauan pasar,sehingga suatu produk akan berjalan mengikuti siklus kehidupan, siklus produk adalah berawal,lahir,tumbuh,berkembang ,tua dan mati ,demikian juga produk bank syariah pada waktu tertentu akan mencapai pada tahapan tertentu meskipun kita tidak mengetahuinya kapan waktu itu terjadi.
http://www.heggusblogwordpress.com

image

Mohon cantumkan sumber link  jika  anda ingin copas

http://www.heggusblogwordpress.com

Berawal dari kisah seorang anak gadis yang bernama sella yang berusia paruh baya.sela merupakan anak yang patuh,taat kepada agama,ia berasal dari keluarga yang kaya orang tua sella mempunyai salah satu peeusahaan besar tapi walaupun kaya ia tidak lupa akan sang pencipta dan selalu taat akan agama ,sella merupakan anak yang pendiam dan susah untuk bergaul dengan orang apalagi untuk menjalani hub seperti zaman sekarang (pacaran).
Tetapi hati dia muai berubah setelah bertemu dengan salah seorang pemuda yang mempunyai wajah yang tampan,badan yang tinggi serta gagah,pertemuan itu berawal dari saat si pemuda ini ingin melamar kerja menjadi security di rumah sella dan ingin menemui bapaknya sella, selama pemuda itu di rumahnya sella diam diam memperhatikan pemuda itu tak lama kemudian pemuda itu pun pulang dan ternyata lamaran kerjanya di terima, dari sini lah mulai terjalin kedekatan antara sella dengan pemuda yang bernama eddy itu.seiring berjalannya waktu sella selalu memberi perhatian kepada eddy dan sudah pasti si pemuda itu sangat bahagia karena gadis secantik setaat sella bisa sangat baik dengan dia.setelah 1 tahun eddy bekerja d rumah mereka.baru mulai lah eddy ingin menjadikan sella sebagai pacarnya.tapi dalam hatinya masih ad rasa ragu karena keluarga eddy dan sella jauh berbeda.dan sampai selang berapa lama eddy tidak berani mengungkapkan perasaanya itu kepada sella yang sangat sangat menunggu ungkapan cinta dari eddy.
http://www.heggusblogwordpres.com
Hari terus berlalu kedekatan mereka terjalin erat tanpa diketahui oleh orang tua sella di karenakan orang tuanya terlalu sibuk dengan pekerjaan.tapi tidak juga ada pernyataan cibta dari sang pemuda ini, memang keluarga mereka sangat jauh berbeda eddy dengan kehidupan yang pas pasan sedangkan sella hidup yang berlimpahan.terkadng ad kesedihan pada sella dia berpikir sampai kapan kedekatan ini sudah hampir dua tahun kedekatan tapi tidak ad satu pun kepastian..tapi hati sella memang sudah tetap pendiriannya akan menunggu saat saat indah itu.
Pada suatu saat pagi ad 3 buah mobil mewah dan di depannya mobil ortu sella masuk dalam pagar rumah sella ,dengan cepat eddy membuka kan pagar itu.setelah mobil parkir turunlah satu rombongan keluarga dan membawa salah satu pemuda.setelah masuk dalam rumah ibu sella memangil sela untuk keluar,ternyata hajat dari bpak sella ini ingin menjodohkan sella dengan pemuda yang dari anak konglomerat mendengar itu sella langsung menangis dan masuk kamar.terus ibu nya mengejar dan menanyakan kepada sella
Ibu sella : sayang kenapa kamu tiba tiba menangis padahal kan ibu tau kamu belum ada pasangan ???
Sella: bu’ sela sudah punya pilihan sella sendiri
Ibu sella : siapa orangnya sayang???
Sella : nanti juga ibu pasti tau sendri
Mendengar perkataan sella seperti itu ibunya langsung pergi keluar .tak lama kemudian pulanglah keluarga yang ingin di jodohkan ma sella tadi,selang beberapa saat saat ortu nya telah pergi sella langsung menghapiri eddy tanpa menceritakan hal itu dengan nya..eddy kebinggungan melihat raut wajah sella yabg tidak seperti biasa
Eddy : ada ap dek sella ??
Sella : tidak apa apa kok bg .
Tidak sedikit pun sella menceritakan hal tersebut kepada eddy.3 tahun eddy bekerja sebagai security rumahnya belum juga ad pernyataan eddy .sella sangat sedih dengan hal itu padahal ia sangat mengharapkan saat indah itu akan terjadi padanya.pada suatu saat malam sekitar jam 11 malam setelah eddy mau pulang kerumah hal yang tidak diinginkan terjadi tiba tiba eddy di cegat oleh beberapa pemuda yang membawa senjata tajam ,melihat pemuda yang cukup ramai dan membawa senjata tajam eddy pun lari tanpa kontrol.tiba tiba mobil dari arah barat melaju dengan cepat dan menghantam eddy saat itu juga eddy jatuh dengan kepala terbentur keras dengan salah satu tembok jembatan.dan sangat mengenaskan kepala wajah eddy susah untuk dikenali karena sudah hampir pecah saat itu juga eddy meninggal di tempat.tak lama kemudian ambulans pun datang dan membawa kerumah sakit.sekitar pukul 1 subuh nada dering hp sella beebunyi.sangat heran sela ad apa gerangan ternyata itu telepon dari ibunya eddy yang dengan suara isak tangis.ibu eddy yabg juga mengetahui kedekatan anaknya dengan sella ini lalu mencrtakan hal yang terjadi.saat itu juga hp yang di pegang sella langsung terjatuh dan ckup lama ia terduan tanpa kata…sekita 15 menit kemudian tanpa basa basi ia pun langsng pergi kerumah sakit tempat mayat eddy di bawa..sesampainya di sana suasana duka menyelimuti keluarga eddy  dan sella pun langsung ingin melihat kondisi mayat eddy .setelah melihat mayat eddy yang begitu mengenaskan langsung sella jatuh pingsan.
Keesokkan hari nya di makamkanlah mayat eddy tersebut …sampai saat itu juga sella belum merelakan keprgian eddy yang membawa 1000 pertanyaan dan 1000 harapan bagi sella.
Setelah polisi menyelidiki kasus kematian eddy tersebut …terungkaplah dalang dari semua ini pemuda yang mengejar eddy tersebut merupakan orang suruhan bapaknya sella.ternyata diam diam bapak sella punya mata mata akan kedekatan sella dengan eddy.cuma ia selalu nampak baik di depan eddy.bapak nya sella mulai naik darah setelah sella menolak lamaran dari anak seorang konglomerat itu hingga ia gelap mata menyuruh orang menghabisi eddy.pada akhirnya bapak sella pun diciduk oleh polisi. Sedangkan sela hidup dalam kesedihan separti orang yang hilang arah hidup…orang yang dia sayang telah menibggal sedangkan bapaknya di tahan polisi.. 
Baik lah sekian dulu cerpen nya yang mungkin akan menjadi pelajaran buat kita bahwsanya mememdam perasaan itu sangat menyakitkan..saya Hendri Agus selaku penulis cerpen ini berharap jika ada mengCOPY postingan ini tolong cantumkan sumber link nya
Www.heggusblogwordpress.com

Notes of a Geechee Girl

Posted: April 2, 2015 in Uncategorized

GOOD

Afroculinaria

https://www.indiegogo.com/projects/travel-notes-of-a-geechee-girl–2

Please support Julie Dash, creator of Daughters of the Dust, bring to the big screen a documentary about the life and work of the great Black culinarian, Vertamae Grosvenor, the one and only!

https://www.indiegogo.com/projects/travel-notes-of-a-geechee-girl–2

image

Lihat pos aslinya

    KATA PENGANTAR

 

Puji sukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT, berkat rahmat, taufik serta hidayah-Nyalah saya telah diberi kesehatan dan kemudahan sehingga saya bisa menyelesaikan Praktek Kerja Lapanagan (PKL) dan menyusun Laporn Praktek Kerja Lapangan ini tanpa ada kendala dan hambatan apapun. Tak lupa pula salawat serta salam saya persembahkan kepada junjungan alam nabi besar Muhammad saw, Allah Hummasali’ala saidina Muhammad wa’alaalisaidinna Muhammad. Tidak lupa saya sampaikan rasa terima kasih saya kepada:

  1. Allah SWT yang telah memberi saya kesehatan dan kesempatan untuk menyelesaikan Praktek Kerja Lapangan (PKL) ini tanpa ada kendala apapun.
  2. Kedua kedua orang tua saya yang telah menyertakan Do’anya untuk keselamatan serta keberhasilan saya dalam menyalesaikan Praktek Kerja Lapangan (PKL).
  3. Bapak H. Umar Natuna, selaku Ketua STAI Natuna.
  4. Kepada Bapak Said M. Rahimin, S.Ag.,MM selaku dosen pembimbing yang telah membimbing saya dengan segala kemampuannya.
  5. Kepada Staf Bank Syariah Mandiri KCP Natuna, yang telah membantu saya dalam menyelesaikan Praktek Kerja Lapangan (PKL).
  6. Serta rekan-rekan yang selalu memberi dorongan dan

    motivasi dalam melaksanakan Praktek Kerja Lapangan (PKL).

 

Ranai, 06 Januari 2015

Penulis

 

HENDRI AGUS

Nimko : 1215.11.1854

 

rumah tipe 1 dari sisi kanan rumah tipe 1 dari sisi kiri RUMAH TIPE 1 TIPE 1 (belakang) tipe 1 (Depan) TIPE 2 (BELAKANG) TIPE 2 (KANAN) TIPE 2 (KIRI) TIPE 2.(ATAS) TIPE 2.(DEPAN) tipe 3